Siang itu, di bandung


Bangsa Indonesia memang bangsa yang lucu, seringkali tindakan lucu diungkapkan dengan muka serius. Seperti pengendara itu bersikap bagaikan polisi pengawal atau pasukan raider bermotor. Padahal kartu
anggota kesatuan aparat keamanan seperti itu tak dimilikinya. ngedagel dijalanan memang tidak menghasilkan senyuman orang, malah orang akan mengerutkan dahi dengan hati trenyuh (melihat orang itu tidak punya
kerjaan atau bermainnya di tengah jalan sampai lupa anak istri) di siang hari panas, menyaksikan kejadian tersebut.

Atau itu adalah ekspresi keyakinan atas sebuah lagu dari masa anak anak sampai tua yang sulit dilupakan, berujudul aku seorang kapiten. adi sikapnya terus seperti kapiten kesiangan🙂. Mungkin anggota
projek pop lebih mawas diri dalam ekspresi video klipnya, katanya walau sudah berandai menjadi aktris cantik atau aktor ganteng, masih tetap menyadari dirinya hanya orang biasa.

Menjadi orang biasa mungkin cita cita yang paling dihindari oleh generasi muda. Padahal para pakar yang selalu kita lihat sebagai orang diatas awan, seperti kaum malaikat, kalau kita baca didalam wawancaranya senantiasa bersikap rendah hati.

Rendah hati adalah sikap yang umum diditemui dilingkungan orang biasa, karena menyadari dirinya hanyalah ciptaan Tuhan, bukan Tuhan dengan kekuasaan tak terbatas. Orang yang ingin memiliki kekuasaan tak
terbatas mungkin ingin menyerupai Tuhan, hanya sayang ketika sakit biasanya memerlukan bantuan orang lain, yaitu dokter. Absurditas sikap orang memang sebaiknya tidak berlebih seperti itu, kasihan anak anak
menyaksikan orang tua yang bersikap seperti Tuhan kepada orang lain, padahal kalau sakit di rumah masih minta kerok atau diantar ke dokter oleh anak istri. Kiranya cita-cita dan keinginan, pola pikir yang
diasah dari pendidikan, sikap yang dhasilkan dari interaksi dengan lingkungan, kepuasan mental karena berinteraksi dengan dirinya sendiri, penilaian orang dan penilaian keluarga, serta bekal literatur
yang digandrungi telah menghasilkan bangunan bangunan masyarakat Indonesia kini dengan bentuk bukan masyarakat adat lagi, tetapi masyarakat geng seperti itu rupanya.

diambil dari sana, ditambah disebelah sini, disadur, edit, tambah ini tambah itu, sehingga menjadi sebuah pencerahan baru bagi yg baca.. tanpa bermaksud menyinggung, ganggu dan melanggar hak-hak orang perorangan

2 thoughts on “Siang itu, di bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s