mencapai titik nol derajat mutlak


Pertama kali mendengar tentang titik nol derajat mutlak adalah saat nonton film kartun saint saiya pada waktu SD. pada saat itu yoga salah satu saint pembela putri sauri akan menembus istana aquarius, yang ternyata penjaganya adalah kakek guru nya sendiri, yang berarti ilmunya lebih tinggi beberapa tingkat dari yoga. jurus andalan yoga adalah pukulan debu-debu intan yang bisa membekukan musuhnya, sedangkan jurus andalan dari astria aquarius adalah pukulan titik nol derajat mutlak..

Kedua kali mendengar tentang titik derajat nol mutlak adalah saat SMP, ketika mempelajari tentang termodinamika.  ada bbrp versi temperatur suhu, ada celcius, fahrenheit, reamur dan kelvin. yang biasa dipake di indonesia adalah derajat celcius.

si celcius menentukan titik nol suhu pada saat es membeku dan titik maksimalnya pada saat air mendidih. sedangkam si Kelvin menentukan titik nol nya itu saat semua molekul itu diam membeku. dan klo dikonversi ke celcius itu artinya dia minus 270 derajat celcius. dan sampe saat ini diasumsikan bahwa itu adalah keadaan diam. diam sediam2nya..

setelah sekian lama tidak bergelut lagi dengan fisika, saya baru menemukan lagi keadaan titik nol derajat mutlak. mungkin kalimatnya bukan menemukan, tapi tepatnya berada dalam kondisi titik nol derajat mutlak..

bukan kulit atau badan atau indera perasa yang merasakan titik nol derajat mutlak, tapi pikiran,beberapa jam yang lalu berada dalam keadaan titik nol derajat mutlak…

pikiran adalah pengendali dari semua ritme tubuh, jika pikiran diam, lenyaplah badan ini.

beruntung cepat tersadar dan mencari kalor untuk mencapai suhu optimal… jika terlambat, semua materi akan diam dan lenyap..

kadang saat terpuruk dengan satu masalah, kita menganggap bahwa diri ini yang paling terpuruk dalam menghadapi masalah, egosentris yang keluar, semuanya bersumber pada diri…pundak terasa berat menanggung beban, kaki lemas dan tak mampu lagi berjalan.. dan berpikir tidak ada kebahagiaan lagi di dunia ini..

ah, kemarin sore saya sampai di titik itu

ternyata hidup tanpa teknologi, memberi rasa yang berbeda ke dalam kepala. berbeda saat memaknai arti sebuah gerak, rupa, rasa dan warna di sekitar..

ada sebuah rasa kebebasan saat tidak terkekang oleh waktu yang terus mengejar, rasa kagum karena banyak hal yang biasa terlewat kini bisa dikagumi dan disyukuri, semuanya menyadarkan pada hakekat kenapa diri ini ada..

2 thoughts on “mencapai titik nol derajat mutlak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s