Peringatan Pemerintah


Semua orang sebenarnya sudah menyadari bahaya merokok. Orang-orang dari dunia kesehatan sudah sering kali memperingatkan akan adanya kandungan nikotin dari berbagai zat kimia berbahaya yang terkandung dalam tembakau. Para ahli etika pun sudah menggembar-gemborkan betapa tidak sopannya merokok di tempat umum karena asapnya mengganggu orang lain.Bahkan, pemda DKI pun menerapkan larangan merokok di berbagai area umum. Tidak mengherankan kiranya jika pemerintah mewajibkan semua bungkus rokok mencantumkan peringatan: Peringatan Pemerintah: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin


Namun, rokok itu memang ibaratnya buah simalakama juga. Jika semua orang Indonesia berhenti merokok, bisa-bisa negeri ini akan kekurangan pemasukan dari cukai rokok. Pernah ada seorang perokok yang dengan bangganya mengatakan hal itu dan dia juga ingin mencantumkan peringatan di semua bungkus rokok: Peringatan Perokok: Tidak merokok bisa menyebabkan negara bangkrut. Hehehe…!@#$%^**!&%^$!%#$@$!@@#%$Pro dan kontra rokok dinegara ini memang merupakan contoh nyata dari buah simalakama (yang udah usang), dilarang rakyat mati (bener gak ya?)… gak dilarang ya rakyat juga mati. Bedanya hanya terletak dimasalah jumlah dan waktu.

Kalau dilarang (katanya) yang bakalan mati adalah para buruh rokok yang jumlahnya ratusan ribu (katanya), para petani tembakau, petani cengkeh, pengusaha rokok, industri kertas rokok, n jangan lupa pemerintah.Kalau tidak dilarang yang bakalan mati adalah orang – orang yang tiap hari terpaksa menghirup hembusan rokok milik orang lain, yang mencakup pelayan restoran, anak – anak, penjual makanan di terminal, pejalan kaki, pekerja kantoran, dst …. n jangan lupa para perokok dan semua yang terlibat didalam industri rokok itu sendiri.

Kalau dilarang (kemungkinan) sebagian korban pelarangan rokok akan mati (relatif) cepat. Mengingat para korban ini mati karena kehilangan mata pencaharian terutama para buruh dan petani (wong cilik). Hal ini seringkali dijadikan oleh alasan para pengusaha yang sesungguhnya mengeruk keuntungan paling banyak dari penjualan rokok. Mereka berlindung dibalik kenyataan bahwa usaha mereka ini membantu rakyat sekitar karena memberikan lapangan pekerjaan yang luas. Sebenarnya hal ini juga patut dikaji lebih lanjut. Mungkin industri rokok zaman dulu adalah industri yang padat karya, tetapi seiring dengan perkembangan teknologi, industri rokok bukan lagi merupakan industri padat karya tetapi sudah dipenuhi oleh mesin – mesin pengganti tenaga manusia yang lebih irit dan efisien sehingga memangkas biaya dan menaikkan produksi. (Gak percaya? ya monggo survey aja sendiri).

Pemerintah juga “seakan-akan” menutup mata terhadap kenyataan ini, dengan berkilah bahwa dengan dinaikkannya cukai rokok maka harga yang tinggi akan menyebabkan para perokok terseleksi secara alami (baca: berkurang) dan dengan demikian pangsa pasar industri rokok mengecil hingga akhirnya hanya akan ada industri rokok yang telah terseleksi juga (baca: berkurang). Alokasi cukai rokok yang seharusnya juga untuk dana “penyembuh” akibat adanya industri rokok juga tidak jelas, kampanye larangan merokok dan penyadaran masyarakat terhadap kerugian yang didapat akibat merokok masih sangat kurang, paling-paling hanya sekedar tulisan Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin di setiap kemasan rokok n iklan rokok beserta turunannya. Tapi tulisan peringatan ini jelas amat sangat kurang kreatif n menarik perhatian pembacanya bila dibandingkan dengan iklan rokok yang semakin lama semakin keren n gaul (ini harus diakui) apalagi iklan – iklan tersebut mengaitkan merokok dengan citra kesuksesan, keberhasilan, kebahagiaan, dan kekompakan.

Kembali ke permasalahan pelarangan rokok akan menyebabkan kematian (cepat) dari wong cilik. HAL INI PATUT DIBANTAH & DILURUSKAN. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh WHO n disebutkan juga di artikel pdpersi tertanggal 25 May 2004 bahwa 84% dari total 1,3 trilyun perokok didunia berasal dari negara dunia ketiga. Nah penduduk negara dunia ketiga ini mayoritasnya jelas adalah masyarakat tidak mampu. So? What’s the point? The point is YANG PALING DIRUGIKAN KARENA ROKOK ADALAH WONG CILIK.

Banyak “masyarakat tidak mampu” yang menjadi konsumen setia rokok. Hal ini dikarenakan adanya output semu bahwa merokok mampu menghilangkan beban kehidupan dunia, meringankan penderitaan, kepuasan, menahan lapar dsb. Padahal output semu ini amat sangat tidak sebanding dengan output nyata, yaitu kemungkinan timbulnya berbagai penyakit akibat rokok, kanker (kantong kering), gangguan terhadap orang lain. lebih jelas tentang zat-zat yang berbahaya yang ada dalam rokok, monggo dilihat di salah satu website kesehatan or disini

So intinya bahwa pelarangan rokok akan menyebabkan kematian bagi wong cilik amat sangat tidak beralasan !!

Larangan merokok di tempat umum sebagaimana telah dituangkan dalam PERDA tentang Pengendalian dan Pencemaran Udara memang bagus tetapi disatu sisi juga merupakan lelucon tersendiri. Denda Rp. 50 Juta bagi pelanggar? Memang jumlah ini kalau dilihat secara nominal amat sangat besar sehingga diharapkan akan memberikan dampak ketakutan bagi calon pelanggar. Tetapi sesungguhnya jumlah sekian itu justru memudahkan adanya penyelewengan pada tingkat pelaksanaan, mengingat mental para penegak hukum kita dan pelanggar hukum kita yang memiliki tepa selira tinggi sehingga uang denda hanya sedikit dan masuk kantong petugas (siapa yg mau protes???).

URGENT : Peringatan Pemerintah (Peringatan buat siapa dari pemerintah mana ?!?!? )

merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin